09 November 2015 |

Bagaimana Caranya Menghadirkan Talenta Berbakat ke Startup Anda

Malam ini saya menyempatkan hadir di acaranya East Venture yang diselenggarakan di The Maja yang berlokasi di Jl Kyai Maja no. 39 (sebelah Pos Indonesia Taman Puring), yang kali ini mengambil tema "Attracting Talent to Your Startup (Pre-Series A)" yang menghadirkan founder dari Glints, Oswald Yeo dan Looi Qin En.

Glints sendiri merupakan sebuah startup asal Singapura yang mendapatkan pendanaan dari East Venture. Misi dari Glints adalah memudahkan para pencari kerja untuk mendapatkan kesempatan magang/bekerja sesuai dengan passion. Founder Glints sendiri merupakan drop-out dari universitas terkemuka seperti Berkeley, Stanford, dan Wharton, walaupun terdengar sebagai keputusan yang beresiko tinggi, namun ternyata pihak universitas tetap memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali melanjutkan pendidikan, ungkap Oswald.

Nah, sayangnya saya hadir saat presentasi telah usai. Namun kekecewaan saya terbayarkan dengan banyaknya pertanyaan menarik selama sesi tanya jawab berlangsung dan saat mingle bareng founder Glints, Looi Qin En.



Beberapa poin penting selama acara berlangsung:
  • Sepuluh karyawan pertama merupakan tim utama Anda, pastikan Anda memilih mereka dengan teliti.
  • Jika Anda memiliki dua buah opsi dalam memilih karyawan, full-time employee namun harus membayar dengan gaji yang tinggi atau mendatangkan part-time employee yang dibayar per proyek, sebaiknya pilih opsi pertama karena startup butuh komitmen dan kerja tim dalam satu komando.
  • Dalam memilih venture capital tidak selamanya uang berbicara. Pastikan bahwa VC tersebut memiliki jaringan dan resources yang memadai guna mengembangkan model bisnis yang sedang kamu jalankan. Setiap VC unik, cek portfolio mereka.
  • Beberapa model bisnis startup di Asia tetap mengharuskan Anda mendatangkan revenue terlebih dahulu, sebagian yang lain (eCommerce, instant messanging, social network, news) memfokuskan diri pada user growth terlebih dahulu sebelum mendatangkan revenue.
  • Ketika Anda dihadapkan pada pilihan beresiko, pastikan Anda meminimalisirnya dengan tidak melepaskan sepenuhnya yang sudah Anda miliki dan berpindah ke pilihan beresiko. Layaknya Tarzan, pastikan genggaman berikutnya sudah terpegang erat sebelum melepas genggaman sebelumnya.
  • Saat melakukan interview kepada kandidat, tanyakan hal yang pernah mereka lakukan:
    • Tekanan paling besar apa yang pernah mereka alami dan bagaimana mereka mengatasinya?
    • Apa yang akan Anda lakukan jika Anda mendapatkan instruksi yang kurang jelas?
    • Apa yang akan Anda lakukan apabila ternyata ide Anda tidak disetujui oleh mayoritas rekan kerja Anda?


EV Hive sendiri merupakan salah satu coworking space yang saya masukan kedalam Daftar Coworking Space Startup di Jakarta.

EV Hive berada di lantai dua The Maja. Dibandingkan dengan coworking space Conclave, konsep open-office di EV Hive lebih terasa dengan menggunakan meja-meja besar di ruangan tengah dan ruangan kaca untuk yang membutuhkan privasi lebih, dibeberapa ruangan kaca tersebut *sekilas ngeliat* sudah dilengkapi dengan perangkat desktop. Selain itu terdapat cafe kecil yang bisa digunakan sebagai tempat melepas lelah. Salah satu portfolio East Venture, Otten Coffee, menempatkan mesin kopinya di cafe tersebut.

Nama-nama besar seperti Tokopedia, Sribu, Jurnal, BerryBenka, Scoop, Bilna, Adskom hingga Moka merupakan sejumlah nama yang telah mendapatkan pendanaan dari East Venture.

Hasil ngobrol dengan salah satu penjaga di EV Hive, startup Sribulancer saat ini menempati lantai tiga The Maja.
 
© 2008-2016 - AnggaRifandi
#Arsenal #London #TechStartup #WebAddict #GrowthHacker