01 May 2012 |

Ketika Toko Buku Gunung Agung Mulai Berbenah

Toko Buku Gunung Agung (TGA)
Saya yakin kebanyakan dari kita begitu mendengar kata "Toko Buku" akan langsung mengasosiasikan kata tersebut dengan embel-embel tambahan, seperti toko buku murah, lengkap, mewah, jadul dan lainnya. Sebagai contoh apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata toko buku murah dan lengkap? yang terlintas di benak saya adalah toko buku Gramedia dengan warna birunya yang begitu dominan, bagaimana dengan toko buku impor? yang saya pikirkan pertama kali adalah Kinokuniya, kesan mewah serta buku dan majalah impornya yang mendominasi disetiap rak-rak bukunya membuat saya mengasosiakannya sebagai toko buku mahal.

Bagaimana dengan Toko Gunung Agung (TGA)? yang pertama terlintas dikepala saya adalah sebuah toko buku lama dengan tata letak yang kurang menarik dan didominasi oleh buku-buku lokal. TGA merupakan salah satu pemain lama dibisnis toko buku namun tertinggal jauh dari Gramedia dari sisi brandingnya.

Masyarakat di perkotaan cenderung memiliki brand awareness yang lebih baik untuk Gramedia ketimbang TGA. Logo yang digunakan oleh TGA juga relatif "jadul" dibandingkan logo yang digunakan oleh Gramedia sehingga sedikit banyak mempengaruhi pandangan orang terhadap TGA.

Dilihat dari jumlah cabangnya, toko buku Gramedia jauh lebih unggul dibandingkan TGA. Gramedia memiliki 80 cabang yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, sedangkan TGA memiliki kurang lebih 32 cabang yang terdapat di kota besar di Jawa dan Bali.

TGA yang didirikan pada tahun 1953, memiliki keuntungan sebagai pionir dibandingkan Gramedia yang didirikan pada tahun 1970. TGA memiliki keuntungan sebagai perintis toko buku dan alat tulis terkemuka di Indonesia, namun sayangnya dalam proses perjalanannya, adaptasi TGA terhadap perubahan market dan kompetitor relatif lambat, sehingga Gramedia dapat menyalip dengan menyuguhkan konsep yang relatif lebih "fresh" dibandingkan yang ditawarkan TGA.

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saat saya mengunjungi Senayan City, saya melihat TGA yang baru. Ya, TGA yang telah melakukan re-branding untuk menghilangkan kesan "jadul"nya dengan mengedepankan konsep yang lebih modern dan friendly. Jika Anda berkunjung ke TGA Senayan City, Anda tidak perlu repot-repot menitipkan tas untuk hanya sekedar membaca-baca buku atau melihat buku yang ingin Anda beli.

Dengan membawa tagline "Kembali ke Gunung Agung", TGA ingin kembali menempatkan diri mereka sebagai pionir toko buku terkemuka di Indonesia serta merebut hati para pecinta buku dengan menyuguhkan pengalaman berbelanja buku yang berbeda.

Dari sisi tampilan, TGA Senayan City memiliki kesamaan dengan Kinokuniya. Dengan dominasi rak-rak besar serta buku dan majalah impor yang disuguhkan sebagai nilai lebih. Perubahan yang saya sukai dari TGA adalah perhatian terhadap icon untuk kategori buku-bukunya.


Dari hasil percakapan saya dengan salah satu staff TGA, ternyata TGA di Senayan City sudah mengalami perubahan sejak Januari 2012, dan baru Senayan City yang mengalami perubahan, *saya belum mengecek TGA cabang lainnya, klo teman-teman ada yang sempat berkunjung ke TGA cabang lain, monggo dikomentari*


Suksesnya re-branding TGA Senayan City sangat bergantung dari bagaiman TGA mem-branding diri mereka dari sisi internal dan eksternal, untuk apa wajah baru jika ternyata layanan yang disajikan masih seperti yang dulu. Ya kita tunggu saja hingga akhir tahun ini, apakah TGA berhasil mentransformasi seluruh cabangnya serta merebut hati pecinta buku di Indonesia.
 
© 2008-2016 - AnggaRifandi
#Arsenal #London #TechStartup #WebAddict #GrowthHacker