Minggu lalu, saya menyempatkan membunuh waktu dengan menonton Contagion. Sebuah film mengenai penyebaran virus yang sangat ganas, yang merupakan perpaduan yang apik dari virus milik kelelawar dan babi. Ceritanya di film tersebut, virus tersebut lebih ganas dari H1N1 yang menyebabkan jutaan orang meninggal hampir di seluruh bagian dunia.
Menariknya wilayah Indonesia termasuk ke dalam wilayah penyebaran virus tersebut. Wilayah Indonesia sendiri memang suka "diikutkan nimbrung" di film-film yang menampilkan mahluk-mahluk aneh, seperti Gorilla, Anaconda; hutan belantara gak karuan, permainan-permainan mistis seperti di film Jumanji dan masih banyak yang lainnya. Salah satu momen yang saya ingat adalah dalam film The Bucket List yang salah satu scenenya menampilkan Kopi Luwak, kopi asli Indonesia.
Akhirnya CCB kembali lagi setelah lebih dari satu bulan mendapatkan temporary suspend dari Blogger karena terjaring dalam algoritma baru mereka yang digunakan untuk membersihkan blog-blog yang dianggap blog spam. Bahagia bercampur haru karena blog ini akhirnya bisa mengudara kembali :D.
Ok, kembali ke topik. Sesuai dengan judul coretan saya kali ini, saya mau sedikit cerita mengenai film yang baru saja saya tonton, The Little Comedian. Film yang berasal dari negeri gajah ini mengisahkan perjuangan seorang anak yang terlahir di keluarga komedian, namun sayangnya ia tidak memiliki bakat melawak seperti yang dimiliki oleh keluarganya, termasuk adiknya.
Film ini berhasil mengemas adegan lucu, haru dan pesan moral yang kental dengan baik, didukung alur cerita yang mudah dimengerti membuat film ini bisa jadi salah satu tontonan hiburan di kala senggang.
Sudah beberapa hari ini saya banyak menghabiskan waktu dengan menonton berbagai macam film. Selain untuk menyegarkan pikiran yang suntuk juga untuk mendapatkan sesuatu yang baru misalnya lokasi-lokasi di negara tersebut yang keren untuk dikunjungi hingga jalan cerita yang mungkin menginspirasi saya :D
Ditengah asyiknya menonton terlintas sebuah pertanyaan di benak saya "Apa sih ciri khas film Indonesia?". Kalau yang saya lihat dari tren saat ini, film-film Indonesia masih terus didominasi film ber-genreKomedi Dewasa.
Masih sedikit film "bagus" sekelas film fenomenal Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Sedih juga melihat kenyataan bahwa tidak semua film "bagus" tersebut mendapat respon yang baik dari masyarakat Indonesia, malah justru dunia internasional yang memberikan penghargaan atas jerih payah sineas kita. Tapi menurut saya saat ini masyarakat Indonesia sudah sangat pintar dalam memilih dan memilah film-film yang memang layak ditonton atau hanya layak untuk dilihat di televisi --karena biasanya film Indonesia bakalan diputar lagi di televisi--
Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan menonton Journey to the Center of the Earth. Ada satu hal yang cukup menarik karena di film ini negara kita Indonesia muncul pada salah satu scenenya. Semakin banyak saja film Hollywood yang "membawa" nama Indonesia di dalamnya.
Tepatnya tanggal 3 Oktober 2008, saya bersama satu kompi sanak saudara menyaksikan pemutaran film Laskar Pelangi (yang bagi saudara saya sudah pemutaran ketiganya ;)). Film Laskar Pelangi diangkat dari novel karya Andrea Hirata yang novelnya kita kenal sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah.
Ditemani dengan sebotol Aqua dan sekotak popcorn, saya menyaksikan jalannya film tersebut bersama para penonton lainnya. Saya belum sempat membaca novelnya sehingga tidak memiliki gambaran alur ceritanya. Kebanyakan film yang diangkat dari novel laris selalu mengundang kritik dari para pembaca novelnya dan menjadi tantangan bagi penulis skenario. Masalah klasiknya yang sering muncul adalah ketidaksesuaian antara film dengan novel atau ada bagian dari cerita yang dihilangkan atau malah ditambahkan. Menurut saya pribadi hal tersebut merupakan hal yang dapat dimaklumi, karena perpindahan antara satu media ke media lain membutuhkan penyesuaian. Sulit memindahkan seluruh alur cerita, karakter dan suasana yang terbangun pada novel ke layar lebar secara utuh. Suasana dan imajinasi yang tercipta ketika kita membaca sebuah novel berbeda antara satu pembaca dengan yang lainnya dan sangat sulit untuk menuangkan imajinasi dari para pembaca ke layar lebar.
Hanya ada satu hal yang cukup mengganggu saya ketika menonton film Laskar Pelangi yaitu munculnya Tora Sudiro sebagai salah satu pemeran dalam film ini. Hal ini disebabkan oleh image Tora Sudiro yang telah dikenal luas sebagai karakter yang jenaka. Ditambah lagi ketika menunggu jam pemutaran film, saya melihat poster Cinlok yang juga diperankan oleh Tora Sudiro :(.
Dari seluruh lagu yang menemani perjalanan film ini, ada satu lagu yang menurut saya kena banget, judulnya Sahabat Kecil.